Selasa, 14 April 2009

Menulis sastra

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Terdapat adanya kesejajaran antara perkembangan membaca dan menulis. Pada umumnya penulis yang baik adalah pembaca yang baik, demikian juga sebaliknya. Proses menulis dekat dengan menggambar dalam hal keduanya mewakili simbol tertentu. Namun, menulis berbeda dengan menggambar, dan hal ini diketahui oleh anak ketika berumur sekitar tiga tahun. Anak mencoba menggunakan aturan dalam menulis dengan mencocokkan bunyi dan tulisan. Bunyi-bunyi dalam huruf dicocokkan dengan bunyi-bunyi yang didengarnya.
Saat ini, pendidikan memerlukan adanya reformasi berkelanjutan dalam merencanakan dan menyelenggarakan pendidikan di masa depan. Reformasi yang dimaksud bukanlah perbuhan yang revolusioner, melainkan suatu perubahan yang bersifat evolutif, antisipatif dan terus menerus sejalan dengan perubahan dan tantangan yang dihadapi dariw aktu ke waktu dengan tetap berpijak pada dasar pendidikan nasional.
Perlu juga dikembangkan visi pendidikan yang berwawasan keunggulan. Wawasan keunggulan yang dimaksud adalah kemampuan dunia pendidikan dalam mewujudkan (mengaktualisasikan) secara maksimal dan berkelanjutan segenap potensi yang ada untuk mereaih prestasi terbaik dari setiap aktifitas belajar diberbagai jenjang, jenis dan jalur pendidikan. Aktualisasi potensi tersebut menyangkut kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Dengan memperhatikan arah dan prioritas pendidikan nasional, dapat dinyatakan bahwa penguasaan kemapuan baca-tulis sejak dini dapat dipandang sebagai salah satu upaya strategis. Kemampuan baca-tulis dikenal sebagai kunci pembuka untuk memasuki ‘dunia’ yang lebih luas. Melalui pengajaran baca-tulis yang baik akan dapat memicu penguasaan kemampuan berpikir kritis-kreatif dan perkembangan dimensi afektif anak dapat dioptimalkan. Menyadari pentingnya kemampuan membaca dan menulis ini, maka tepatlah kiranya jika kurikulum di Sekolah Dasar menempatkan penguasaan kemampuan dan keterampilan dasar baca-tulis pada posisi sentral.


B. Rumusan Masalah
Dari pemaparan latar belakang diatas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana peran guru dalam meningkatkan kemampuan siswa kelas tinggi untuk menulis sastra?
2. Bagaimana mengaplikasikan proses menulis dalam pembelajaran menulis sastra gaya naratif?

PEMBAHASAN
A. Meningkatkan Keterampilan Menulis Oleh Guru Bahasa Indonesia
Membaca dan menulis merupakan dua aspek kemampuan yang saling berkaitan, dan tidak terpisahkan. Sebagai profesionalitas guru bidang studi Bahasa Indonesia di kelas tinggi Sekolah Dasar, maka guru tersebut sejatinya juga berusaha untuk meningkatkan keterampilan menulis sastra. Pada saat guru mengajarkan menulis, para siswa pada saat itu tentu akan membaca tulisannya. Demikian pula halnya dengan aspek-aspek kemampuan berbahasa yang lain, yakni menyimak dan berbicara. Keempat aspek kemampuan berbahasa tersebut memang berkaitan erat, sehingga merupakan satu kesatuan sehubungan dengan hal itu, membicarakan dan mendiskusikan menyimak, berbicara, membaca dan menulis secara terpisah merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Membaca merupakan salah satu jenis kemampuan berbahasa tulis, yang bersifat reseptif. Disebut reseptif karena dengan mambaca, seseorang akan dapat memperoleh ilmu dan pengetahuan serta pengalaman-pengalaman baru. Semua yang diperoleh melalui bacaan itu akan memungkinkan orang tersebut mempertinggi daya pikirnya. Mempertajam pandangannya, dan memperluas wawasannya. Dengan demikian maka kegiatan membaca merupakan kegiatan yang sangat diperlukan oleh siapa pun yang ingin maju dan meningkatkan diri. Oleh sebab itu, pembelajaran membaca disekolah mempunyai peranan penting.
Menulis dapat dipandang sebagai rangkaian aktifitas yang bersifat fleksibel. Rangkaian aktifitas yang dimaksud meliputi: pramenulis, penulisan draf, revisi, penyuntingan dan publikasi atau pembahasan. Seperti halnya perkembangan membaca, perkembangan anak dalam menulis juga terjadi perlahan-lahan. Dalam tahap ini anak perlu mendapat bimbingan dalam memahami dan menguasai cara mentransfer pikiran kedalam tulisan. Terdapat prinsip-prinsip perkembangan menulis, meliputi:
1. Prinsip Keterulangan (recurring principle): anak menyadari bahwa dalam suatu kata bentuk yang sama terjadi berulang-ulang. Mereka memperagakannya dengan cara menggunakan suatu bentuk secara berulan-ulang.
2. Prinsip Generatif (generative principle): anak menyadari bentuk-bentuk tulisan secara lebih rinci, emnggunakan bebrapa huruf dalam kombinasi dan pola yang beragam. Mereka mulai memp[erhatikan adanya keteraturan huruf dalam kata.
3. Konsep Tanda (sign concept): anak memahami kearbritrenan tanda-tanda dalam bahasa tulis. Untuk mepermudah kegiatan komunikasi, orang dewasa perlu menghubungkan benda tertentu denan kata yang mewakilinya.
4. Fleksibilitas (flexibility): anak menyadari bahwa suatu tanda secara fleksibel dapat berupa menjadi tanda yang lain. Dengan menambahkan tanda-tanda tertentu, huruf I dapat berubah menjadi T, E, F dan sebagainya.
5. Arah Tanda (directionality): anak menyadari bahwa tulisan bersifat linier, bergerak dari satu huruf ke huruf yang lain membentuk suatu kata, dari arah kiri menuju ke rah kanan, bergerak dari baris yang satu menuju baris yang lain.
Prinsip perkembangan menulis anak tersebut, disaat yang sama juga, anak mengalami perkembangan dalam tulisannya, yang menurut Temple, dkk (1988:99) terdiri dari: prafonemik, fonemik tahap awal, nama huruf, transisi dan menguasai.
Dalam tahap prafonemik anak sudah mengenali bentuk dan ukuran huruf, tetapi anak tersebut belum dapat menggabungkan huruf untuk menulis kata. Dia belum menguasai prinsip-prinsip fonetik, yakni huruf mewakili bunyi-bunyi yang membentuk kata. Bimbingan yang perlu diberikan pada anak yang berada dalam tahap profenemik dapat berupa: bacakan dengan keras kata-kata yang dekat dengan dunia anak, bacakan judul atau label yang dekat dengan dunia anak, berikan contoh penulisan huruf dan jelaskan bentuk serta ukurannya.
Dalam tahap fonemik awal anak sudah mulai mengenali prinsip-pinsip fonetik, tahu cara kerja tulisan, tetapi keterampilan mengoperasikan prinsip fonetik masih sangat terbatas. Akibat dari terbatasnya keterampilan ini, anak seringkali menuliskan kata degan satu atau dua huruf saja. Bimbingan yang dapat diberikan pada anak yang berada dalam tahap fonemik tahap awal adalah: ajaklah anak memasuki dunia tulis (misalnya dengan memperkenalkan barang-barang cetak yang diamati anak), kegiatan bimbingan difokuskan pada menetapkan konsep kata dalam diri anak, teknik yan ditempuh: membacakan buku yang sangat dekat dengan dunia anak, fokuskan pada kata-kata tertentu, beri kesempatan pada anak untuk menuliskan apa saja yang dapat ditulis, yakinkan bahwa anak dapat menulis, hindarkan anak dari rasa takut membuat kesalahan dalam menulis.
Dalam tahap nama-huruf (menguasai huruf) anak mulai menerapkan prinsip fonetik. Anak tersebut telah menggunakan huruf-huruf untuk mewakili bunyi-bunyi yang membentuk suatu kata. Tulisan yang dihasilkan seringkali belum dapat dibaca, termasuk oleh anak itu sendiri. Bimbingan yang dapat diberikan pada anak yang berada dalam tahap nama-huruf adalah: latihan penulisan kata/kelompok kata serta cara mengucapkannya, menunjukkan contoh penulisan yang tidak tepat dengan memanfaatkan kamus, mencatat kata-kata yang serring dijumpai dalam kegiatan membaca.
Dalam tahap transisi, penguasaan anak terhadap sistem tatatulis semakin lengkap. Meskipun belum konsisten, dia sudah dapat menggunakan ejaan dan tata dan tanda baca dalam menulis, khususnya pemberian spasi antarkata. Bimbingan untuk anak yang berada dalam tahap transisi difokuskan pada pengusaan pola dan sistem tatatulis. Kegiatan bimbingan dapat berupa: memperkenalkan aturan tatatulis, cara mengucapkan kata, cara menulis dan maknanya dalam konteks, menelaah kesalahan-kesalahan penulisan yang dilakukan dalam penulisan. Dan tahap akhir ini adalah anak tidak hanya dapat menerapkan dengan baik semua sistem tatatulis, tetapi juga telah menguasai keterampilan menulis untuk tingkat pemula.

B. Menulis Sastra Gaya Naratif Pada Siswa Kelas Tinggi Sekolah Dasar

Sastra berfungsi untuk menghibur diri dan sekaligus juga mendidik, sehingga paling sedikit ada dua nilai yang diperoleh dari sastra yaitu kebutuhan akan kepuasan pribadi dan pengembangan kemampuan berbahasa. Kepuasan pribadi yang diperoleh oleh anak-anak setelah membaca karya sastra sangat penting artinya, sebelum mereka diminta untuk menguasai keterampilan membaca. Keberhasilan kegiatan membaca tidak mungkin dapat dicapai apabila anak-anak tertarik pada bacaan yang mereka baca karena memberikan pengalaman yang menyenangkan. Selanjutnya karya sastra juga berfungsi memberikan penguatan pada kemampuan berpikir naratif, karena pada umumnya karya sastra berbentuk cerita bersifat naratif.
Dari segi etimologis, narrative, dari asal latin ”narrare”, menunjukkan berbagai keterangan tentang sebuah kejadian. Tapi, pekerjaan naratif bukan sekedar menyampaikan apa yang terjadi. Melainkan menuntut pula kemampuan cara mengisahkannya, mengamati drama, mencatat konflik, yang biasanya luput dari karya sastra.
Gaya pelaporan dari genre nonofiksi yang biasa disebut naratif. Bergaya storyteller, pendongeng yang melaporkan peristiwa dengan nilai dramatis yag kuat, serta tingkat immersion yang tingi. Keintiman pembaca dengan peristiwa diobuka lebar-lebar oleh penulis sastra dengan sangat memperhatikan akurasi fakta.
Dalam tahun multimedia ini, naratif menjadi sebuah genre, dengan tradisi dan aturannya sendiri, dengan kerangka yang begitu ketat dan dengan tingkat restriksi yang tinggi, sehingga mencapai titik ritualistik tertentu. Ada tentang signifier yang dikembangkan. Khalayak mengenal berbagai konveksinya, mengikutinya, tapi sekaligus juga siap untuk menerima upaya eksperimentatif. Ini mengindikasikan adanya perhubungan yang aktif tiap genre alur sastra tersebut.
Dalam upaya meningkatkan keterampilan menulis sastra dengan menggunakan gaya naratif oleh siswa kelas tinggi di Sekolah Dasar guru bidang studi Bahasa Indonesia membutuhkan strategi untuk meningkatkan keterampilan siswa tersebut, yaitu dengan memilihkan karya sastra yang dapat mengaktifkan seluruh kecerdasan (mindful) anak dan karya sastra yang menyenangkan dunia mereka.
Karya sastra yang dapat mengaktifkan seluruh kecerdasan anak yaitu: pertama, karya sastra yang memberi banyak persepektif bagi anak untuk brepikir yang disesuaikan dengan perkembangan anak. Kedua, mengaitkan persepsi lingkungan yang dihadapi anak dan mendorong anak mampu mempersepsikan solusi yang mungkin penting untuk anak.
Upaya meningkatkan keterampilan menulis sastra dengan menggunakan gaya naratif oleh siswa kelas tinggi di Sekolah Dasar, guru bidang studi Bahasa Indonesia juga harus dapat menyenangkan dunia mereka melalui karya sastra, yaitu dengan latar dan alur cerita yang menyenangkan sesuai dunia anak didalam karya sastra tersebut. Latar cerita yang digunakan menggunakan dunia yang selalu dialami oleh mereka seperti di sekolah, rumah, atau di alam terbuka. Alur cerita yang menarik untuk mereka dapat berupa perjalanan permainan, petualangan atau belajar melalui pengalaman sehari-hari. Dengan latar cerita ataupun dengan alur cerita yang demikian diharapkan siswa mampu memiliki keterampilan menulis sastra dengan gaya naratif.

SIMPULAN
Demikian deskripsi makalah ini, kesimpulan yang dapat diambil dari penjelasan tersebut adalah:
1. Membaca dan menulis merupakan dua aspek kemampuan yang saling berkaitan dan tidak terpisahkan.
2. Membaca merupakan salah satu jenis kemampuan berbahasa tulis, yang bersifat reseptif, yaitu dengan mambaca, seseorang akan dapat memperoleh ilmu dan pengetahuan serta pengalaman-pengalaman baru.
3. Selain untuk menghibur diri, sastra juga berfungsi untuk mendidik, sehingga ada dua nilai yang diperoleh dari karya sastra yaitu kebutuhan akan kepuasan pribadi dan pengembangan kemampuan berbahasa.
4. Dalam upaya meningkatkan keterampilan menulis sastra dengan menggunakan gaya naratif oleh siswa di Sekolah Dasar, membutuhkan strategi dengan memilihkan karya sastra yang dapat mengaktifkan seluruh kecerdasan (mindful) anak dan karya sastra yang menyenangkan dunia mereka, yang akhirnya mereka dapat menulis karya sastra.


* Makalah ini disampaikan didepan mahasiswa Universitas Mahasiswa, 2006.
** Aktif sebagai Koo. Dep. Pengkajian Info Kepelajaran PW PII NTB

DAFTAR PUSTAKA
Santana K., Septiawan. 2005, Jurnalisme Kontemporer, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.
Wibowo, Wahyu. 2003, Manajemen Bahasa, PT Gramedia, Jakarta.
Zuchdi, Darmiyati. 1997, Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia Di Kelas Rendah, Depdikbud, Jakarta.
---------------------. 1999, Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia Di Kelas Tinggi, Depdikbud, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar